Ruang budaya Lapangan Jemaa el-Fna

Lapangan Jamaa el Fna terletak di kota Marrakesh dan merupakan simbol kota Marrakesh sejak abad ke-11. Di lapangan ini terdapat berbagai kelompok seniman, mulai dari pemusik, penari, pencerita, hingga penjinak ular dan pemakan gelas. Selain itu terdapat banyak sekali penjual makanan kaki lima, rumah makan, orang yang menawarkan jasa tato dengan henna, dukun, dan pengkotbah.

Lapangan Jamaa el Fna4 Lapangan Jamaa el Fna5 Lapangan Jamaa el Fna6 Lapangan Jamaa el Fna7 Lapangan Jamaa el Fna11 Lapangan Jamaa el Fna Lapangan Jamaa el Fna1 Lapangan Jamaa el Fna2 Lapangan Jamaa el Fna3

Ada beberapa tempat yang biasa dikunjungi oleh turis di dalam dan sekitar kota. Jika ingin berbelanja di tempat yang serba ada, bisa datang ke Place Jemaa El Fna di pusat Medina. Place Jemaa El Fna merupakan tempat yang paling ramai dikunjungi di antara tempat-tempat lain, karena posisinya yang strategis di tengah kota dan memiliki berbagai aktifitas di dalamnya. Place Jemaa El Fna memiliki lapangan luas yang biasa disebut ‘the square’ tempat orang membuka warung makan dan pertunjukan setiap malam. Ada puluhan warung tempat makan dan puluhan kios dibuka setiap malam di sebagian lapangan tersebut, masing-masing diberi nomor stand agar memudahkan orang untuk mengingat. Berdasarkan rekomendasi orang Singapura-Indonesia yang ditemui di pasar, stand yang paling enak makanannya dan besar tempatnya adalah stand nomor satu, bernama Chez Ali. Semua makanan tidak perlu diragukan lagi ke-halal-annya, karena memang di negara Arab yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

al-kotoubia-dari-jemaa-el-fna

Gambar 5. Jemaa el Fna

Sebagian ruang lagi di lapangan tersebut diisi dengan banyak gerombolan orang dengan pertunjukan di tengah-tengahnya, semacam pertunjukan yang biasa ditemui di daerah Piccadilly Circus atau Leicester Square di London, berupa teater/drama, pertunjukan musik, wanita yang menggunakan henna, sulap, atau pertunjukan ular kobra. Pertunjukan-pertunjukan tersebut tidak hanya untuk meminta uang, tetapi juga sebagai tempat untuk ditempa atau latihan. Jika yang menunjukkan kebolehannya dapat menarik perhatian orang dan mendapat apresiasi sampai akhir pertunjukan, berarti mereka melewati proses penempaan diri. Lapangan ini biasanya mulai ramai pada saat Maghrib hingga malam hari.

gerombolan-di-jemaa-el-fna

Gambar 6. Salah satu gerombolan orang yang terlihat di sekitar Jemaa el Fna

Di sebelah timur dari Jemaa el Fna terdapat pasar yang biasa disebut ‘The Souks’ (suuqs) seperti Pasar Kosambi di Bandung atau Pasar Glodok di Jakarta, tempat segala barang dijual, mulai dari pernak-pernik, barang oleh-oleh, makanan, sampai karpet yang sebagian besar merupakan barang-barang khas negara-negara Arab. Jika dibandingkan dengan tempat-tempat lain di kota tersebut, barang-barang yang dijual relatif murah dan bisa ditawar. Jika suka tawar menawar, jangan ragu-ragu untuk menawar sampai sepertiganya, tetapi rata-rata kesepakatan hanya bisa mencapai setengah dari harga pertama yang ditawarkan.

jemaa-el-fna

Gambar 7. Pemandangan menara masjid Al Koutoubia dari arah Jemaa el Fna

Tidak jauh dari Jemaa el Fna, terdapat masjid Al Koutoubia, masjid terbesar kedua di Maroko yang memiliki menara tertinggi di Marrakech. Dari segi skala, lokasi, dan lanskap desainnya, Al Koutoubia berpotensi menjadi salah satu tourist attraction di Marrakech. Lapangan di luar masjid pun relatif luas, banyak orang yang suka menghabiskan waktu sorenya disana, suasananya seperti Trafalgar Square di London atau Alun-alun di Bandung. Namun, ironisnya mesjid ini jika didatangi lebih dekat, terlihat sangat jelas kalau mesjid ini tidak terawat dengan baik. Di beberapa tempat sekitar mesjid ini terasa bau pesing tempat orang buang air sembarangan, ada dua bagian bangunan yang setengah rusak dibiarkan begitu saja, lampu sorot masjid yang rusak, dan kualitas bangunannya pun tidak baik. Tidak hanya itu, kondisi di dalam mesjid pun bisa dibilang tidak layak untuk digunakan. Dari masuk saja tidak dipisah antara pria dan wanita, tempat solat terlihat kotor, bahkan tempat wudhu pun hanya kolam yang berisi kotoran burung tanpa kamar mandi. Sangat mengherankan untuk masjid sebesar itu, yang terlihat megah dari kejauhan, tetapi kondisinya sangat mengkhawatirkan. Menurut pemandu wisata yang ditanyakan, sebagian besar masjid di Maroko itu diatur, dirawat, dan dilindungi oleh pemerintah. Pengguna masjid tidak bisa menyumbang langsung untuk perawatan masjid, harus melalui pemerintah. Selain itu, masjid ini jarang dipakai oleh masyarakat sekitar karena sudah ada banyak masjid-masjid kecil di sekitar Jemaa el Fna, sehingga pemerintah kurang memperhatikan masjid ini. Alhasil, mesjid ini pun tidak terawat dengan baik. Akan tetapi, menurut narasumber yang sama, saat bulan Ramadhan, terutama 10 hari terakhir, masjid ini sangat penuh hingga menutup jalan raya utama.

masjid-al-koutoubia

Gambar 8. Masjid Al Koutoubia

Iklan

Tentang Bombo Unyil

Anak dirantau, sendiri , disini , di Dunia Maya
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s