Suku Aztec

Kaum Aztek atau Aztec adalah orang Amerika Tengah dari sentral Meksiko yang kaya dengan warisan mitologi dan kebudayaan. Dalam bahasa Nahuatl, bahasa suku Aztek, “Aztek” berarti seseorang yang berasal dari Aztlán”. Kaum Aztek juga menyebut diri mereka sebagai Mehika atau Meshika atau Mexica, asal nama Stocking “Meksiko”. Penggunaan nama Aztek sebagai istilah yang merujuk kepada mereka yang mempunyai ekonomi, adat, agama, dan bahasa Mexica diawali oleh Alexander von Humboldt.
Aztek merupakan satu dari beberapa kebudayaan, yang disebut secara umum sebagai “nahuas” mengikut bahasa mereka. Ketika kaum Aztek sampai ke lembah Anahuac, mereka dianggap oleh nahuas lain sebagai yang paling tidak berperadaban, jadi mereka memutuskan untuk belajar, dan mengambil dari kaum- kaum lain, mereka banyak belajar dari Toltec tua (yang sering dikelirukan dengan kebudayaan Teotihuacan yang lebih tua. Kaum Aztek menggabungkan beberapa tradisi dicampurkan dengan tradisi mereka sendiri. Karena itu mereka mempunyai beberapa mitos penciptaan, satu darinya menggambarkan empat era sebelum dunia sekarang, kesemuanya berakhir dengan malapetaka. Era kelima akan kekal disebabkan pengorbanan hero kepada matahari. Dongeng ini dikaitkan dengan kota tua Teotihuacan, yang telah musnah ketika kaum Aztek tiba. Mitos yang lain menggambarkan dunia sebagai ciptaan dewa kembar, Tezcatlipoca dan Quetzalcoatl. Tezcatlipoca kehilangan kakinya dalam proses ciptaan dunia dan semua gambaran dewa ini menggambarkan Tezcatlipoca tanpa kaki dan menampakkan tulang. Quetzalcoatl juga dikenali sebagai Tezcatlipoca Putih.

Menurut legenda, mereka mengembara ke Lago de Texcoco di Meksiko Tengah dari suatu tempat di utara yang dikenali sebagai Aztlán. Mereka dipandu oleh dewa mereka Huitzilopochtli. Ketika mereka tiba di sebuah pulau di tengah danau, mereka melihat burung elang memakan seekor ular ketika bertengger di atas kaktus nopal, gambaran yang sesuai dengan ramalan yang menyuruh mereka membuat pemukiman baru di situ. Kaum Aztek membuat kota mereka yang dikenal sebagai Tenochtitlan. Tempat tersebut, pada masa sekarang merupakan pusat kota Meksiko. Burung Elang legendaris itu pun juga terdapat dalam bendera Meksiko.

CIVL0366 CIVL0350 CIVL0351 CIVL0352 CIVL0353 CIVL0354

CIVL0355 CIVL0356 CIVL0357 CIVL0358 CIVL0359 CIVL0360 CIVL0361 CIVL0362 CIVL0363 CIVL0364 CIVL0365

Budaya

CIVL0388 CIVL0389 CIVL0390 CIVL0391 CIVL0367 CIVL0368 CIVL0369 CIVL0370 CIVL0371 CIVL0372 CIVL0373

CIVL0374 CIVL0375 CIVL0376 CIVL0377 CIVL0378 CIVL0379 CIVL0380 CIVL0381 CIVL0382 CIVL0383 CIVL0384 CIVL0385 CIVL0386 CIVL0387

Dipublikasi di Tak Berkategori | Meninggalkan komentar

Nyanyian Hudhud suku Ifugao

Suku Ifugao terkenal nyanyian Hudhud yang dinyanyikan di musim tanam, musim panen, dan upacara pemakaman. Hudhud sudah ada paling tidak sejak abad ke-7. Nyanyian Hudhud berjumlah lebih dari 200 repertoir dan masing-masing terdiri dari 40 episode, tapi semua lagu hanya memiliki satu melodi. Bila Hudhud dinyanyikan seluruhnya bisa memakan waktu 3-4 hari. Hudhud dinyanyikan oleh wanita yang memegang posisi senior, sekaligus bertugas sebagai sejarawan dan pengkotbah. Lirik lagu berupa syair yang berisi onomatopoeia, metafora dan metonimi

Musik Philippina

t vm

Lagu-lagu tradisional Philipina pada masa pra-Hispanik diklasifikasikan secara tegas. Dalam klasifikasi tersebut, terdapat awit yang dinyanyikan dirumah, uyayi (lagu nina bobok), suliranin (lagu bersampan), tigpasin (lagu berperahu), diyuga (nyanyian suka ria selama masa tanam), tulingdao (nyanyian suka ria selama masa panen), kumintang (lagu perang), kundiman (lagu cinta), sambatani (lagu perayaan), dan pananapat (musik-musik yang merayu).

            Lagu-lagu tersebut didampingi oleh berbagai instrumen musik tradisional, seperti timbol, timbrel, simbal, sebuah gitar yang disebut kudyapi, bangsi (sama dengan seruling), uleleng (sama dengan ukulele, gitar Hawai dengan empat senar), drum, dan gong. Kini satu-satunya jenis lagu kuno Philipina yang terdengar adalah kundiman dan uyayi. Diantara instrumen musik tradisional yang masih digunakan saat ini adalah gitar kudyapi.

Karakter Musik Filipina

  •  Hampir semua lagu Filipina adalah lagu cinta yang sentimental/serenade, lagu-lagu tentang cita tak terbalas atau kehilangan cinta.  Biasanya cenderung mulai di sebuah kunci minor dan berpindah ke kunci mayor.
  • Banyak juga lagu Filipina tentang alam. Contoh : Sa kabukiran, ang Maya. Ada juga banyak lagu nina bobok, lagu jenaka, dan lagu kerja.
  •  Musik Filipina memiliki melodi yang merupakan perpaduan musik barat dan timur.
  •  Biasanya lagu Filipina memiliki 3/4, 4/4, atau 2/4 ketukan.
  • Setiap daerah di Filipina memiliki lagu yang berbeda, tentunya masing-masing dialek/logat.


 Perpaduan Timur dan Barat

            Seperti budaya dari negara itu sendiri, musik tradisional Filipina adalah tempat bercampur masa lalu sejarah negara itu. Musik tradisional Filipina dipengaruhi oleh semua musik yang datang ke dalam kontak dengan, sehingga tidak mengherankan bahwa kadang-kadang terdengar seperti musik-musik Cina, India atau bahkan Eropa.

Seperti orang yang menggunakannya, Musik Tradisional di Filipina baik Barat atau non-Barat. Dan sementara memiliki subdivisi lebih, masing-masing bentuk pasti akan mencerminkan budaya kelompok tertentu. Melalui Musik Tradisional, salah satu jelas dapat melihat bagaimana Filipina memiliki rasa hormat yang mendalam kepada Allah, hubungan keluarga dekat, dan memperhatikan alam.

Contoh musik tradisional Filipina

  •         Nyanyian Hudhud suku Ifugao

Suku Ifugao terkenal nyanyian Hudhud yang dinyanyikan di musim tanam, musim panen, dan upacara pemakaman. Hudhud sudah ada paling tidak sejak abad ke-7. Nyanyian Hudhud berjumlah lebih dari 200 repertoir dan masing-masing terdiri dari 40 episode, tapi semua lagu hanya memiliki satu melodi. Bila Hudhud dinyanyikan seluruhnya bisa memakan waktu 3-4 hari. Hudhud dinyanyikan oleh wanita yang memegang posisi senior, sekaligus bertugas sebagai sejarawan dan pengkotbah. Lirik lagu berupa syair yang berisi onomatopoeia, metafora dan metonimi.

  •       Harana dan Kundiman

The Harana atau Kundiman adalah lirik lagu dipopulerkan di Kepulauan Filipina, yang tanggal kembali ke masa Spanyol. Disusun dalam tradisi Meksiko-Spanyol, musik ditandai dengan kunci kecil di awal dan bergeser ke tombol besar di babak kedua. Liriknya menggambarkan tema romantis, biasanya menggambarkan cinta, gairah, atau kesedihan. Dalam arti lain Harana dan Kundiman didasarkan pada kisah cinta. Hampir semua lagu-lagu cinta tradisional Filipina dalam genre ini digambarkan dengan emosi puitis.

Dipublikasi di Musik | Tag , | Meninggalkan komentar

Ruang budaya Lapangan Jemaa el-Fna

Lapangan Jamaa el Fna terletak di kota Marrakesh dan merupakan simbol kota Marrakesh sejak abad ke-11. Di lapangan ini terdapat berbagai kelompok seniman, mulai dari pemusik, penari, pencerita, hingga penjinak ular dan pemakan gelas. Selain itu terdapat banyak sekali penjual makanan kaki lima, rumah makan, orang yang menawarkan jasa tato dengan henna, dukun, dan pengkotbah.

Lapangan Jamaa el Fna4 Lapangan Jamaa el Fna5 Lapangan Jamaa el Fna6 Lapangan Jamaa el Fna7 Lapangan Jamaa el Fna11 Lapangan Jamaa el Fna Lapangan Jamaa el Fna1 Lapangan Jamaa el Fna2 Lapangan Jamaa el Fna3

Ada beberapa tempat yang biasa dikunjungi oleh turis di dalam dan sekitar kota. Jika ingin berbelanja di tempat yang serba ada, bisa datang ke Place Jemaa El Fna di pusat Medina. Place Jemaa El Fna merupakan tempat yang paling ramai dikunjungi di antara tempat-tempat lain, karena posisinya yang strategis di tengah kota dan memiliki berbagai aktifitas di dalamnya. Place Jemaa El Fna memiliki lapangan luas yang biasa disebut ‘the square’ tempat orang membuka warung makan dan pertunjukan setiap malam. Ada puluhan warung tempat makan dan puluhan kios dibuka setiap malam di sebagian lapangan tersebut, masing-masing diberi nomor stand agar memudahkan orang untuk mengingat. Berdasarkan rekomendasi orang Singapura-Indonesia yang ditemui di pasar, stand yang paling enak makanannya dan besar tempatnya adalah stand nomor satu, bernama Chez Ali. Semua makanan tidak perlu diragukan lagi ke-halal-annya, karena memang di negara Arab yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

al-kotoubia-dari-jemaa-el-fna

Gambar 5. Jemaa el Fna

Sebagian ruang lagi di lapangan tersebut diisi dengan banyak gerombolan orang dengan pertunjukan di tengah-tengahnya, semacam pertunjukan yang biasa ditemui di daerah Piccadilly Circus atau Leicester Square di London, berupa teater/drama, pertunjukan musik, wanita yang menggunakan henna, sulap, atau pertunjukan ular kobra. Pertunjukan-pertunjukan tersebut tidak hanya untuk meminta uang, tetapi juga sebagai tempat untuk ditempa atau latihan. Jika yang menunjukkan kebolehannya dapat menarik perhatian orang dan mendapat apresiasi sampai akhir pertunjukan, berarti mereka melewati proses penempaan diri. Lapangan ini biasanya mulai ramai pada saat Maghrib hingga malam hari.

gerombolan-di-jemaa-el-fna

Gambar 6. Salah satu gerombolan orang yang terlihat di sekitar Jemaa el Fna

Di sebelah timur dari Jemaa el Fna terdapat pasar yang biasa disebut ‘The Souks’ (suuqs) seperti Pasar Kosambi di Bandung atau Pasar Glodok di Jakarta, tempat segala barang dijual, mulai dari pernak-pernik, barang oleh-oleh, makanan, sampai karpet yang sebagian besar merupakan barang-barang khas negara-negara Arab. Jika dibandingkan dengan tempat-tempat lain di kota tersebut, barang-barang yang dijual relatif murah dan bisa ditawar. Jika suka tawar menawar, jangan ragu-ragu untuk menawar sampai sepertiganya, tetapi rata-rata kesepakatan hanya bisa mencapai setengah dari harga pertama yang ditawarkan.

jemaa-el-fna

Gambar 7. Pemandangan menara masjid Al Koutoubia dari arah Jemaa el Fna

Tidak jauh dari Jemaa el Fna, terdapat masjid Al Koutoubia, masjid terbesar kedua di Maroko yang memiliki menara tertinggi di Marrakech. Dari segi skala, lokasi, dan lanskap desainnya, Al Koutoubia berpotensi menjadi salah satu tourist attraction di Marrakech. Lapangan di luar masjid pun relatif luas, banyak orang yang suka menghabiskan waktu sorenya disana, suasananya seperti Trafalgar Square di London atau Alun-alun di Bandung. Namun, ironisnya mesjid ini jika didatangi lebih dekat, terlihat sangat jelas kalau mesjid ini tidak terawat dengan baik. Di beberapa tempat sekitar mesjid ini terasa bau pesing tempat orang buang air sembarangan, ada dua bagian bangunan yang setengah rusak dibiarkan begitu saja, lampu sorot masjid yang rusak, dan kualitas bangunannya pun tidak baik. Tidak hanya itu, kondisi di dalam mesjid pun bisa dibilang tidak layak untuk digunakan. Dari masuk saja tidak dipisah antara pria dan wanita, tempat solat terlihat kotor, bahkan tempat wudhu pun hanya kolam yang berisi kotoran burung tanpa kamar mandi. Sangat mengherankan untuk masjid sebesar itu, yang terlihat megah dari kejauhan, tetapi kondisinya sangat mengkhawatirkan. Menurut pemandu wisata yang ditanyakan, sebagian besar masjid di Maroko itu diatur, dirawat, dan dilindungi oleh pemerintah. Pengguna masjid tidak bisa menyumbang langsung untuk perawatan masjid, harus melalui pemerintah. Selain itu, masjid ini jarang dipakai oleh masyarakat sekitar karena sudah ada banyak masjid-masjid kecil di sekitar Jemaa el Fna, sehingga pemerintah kurang memperhatikan masjid ini. Alhasil, mesjid ini pun tidak terawat dengan baik. Akan tetapi, menurut narasumber yang sama, saat bulan Ramadhan, terutama 10 hari terakhir, masjid ini sangat penuh hingga menutup jalan raya utama.

masjid-al-koutoubia

Gambar 8. Masjid Al Koutoubia

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tag , | Meninggalkan komentar

Kerajinan salib dan simbolismenya di Lithuania

Kerajinan membuat salib dan altar (Lituania dan Latvia) merupakan bagian penting kebudayaan orang Lituania. Salib asal Lituania dibuat dari kayu oak dan banyak dipakai di gereja Katolik Roma. Kerajinan salib berasal dari kebudayaan zaman kuno pra-Kristen. Di abad ke-19 sewaktu Lituania menjadi bagian Kekaisaran Rusia, salib dijadikan simbol orang Lituania. Salib Lituania berukuran besar, tingginya bisa 1-5 meter, memiliki motif bunga atau motif geometris dan sering diberi hiasan berupa patung ukuran kecil.

108979BCR10deta_00000009312 salib-1 4955715-The_Hill_of_Crosses_-Kry-i-_kalnas-0 hill-of-crosses-crop 1444753_20130517092837 1444753_20130517093000

Beberapa foto dari

Vilna - view from the top Lituania5 Edita-Vilkeviciute Lituania6 Lituania7 Lituania8 Trakai-Troki Lituania Lituania9 Lituania10 Lituania vilnius_lituania lituania1 Lituania2 Lituania3

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tag , , | Meninggalkan komentar

Nōgaku Jepang

Pertunjukan Nōgaku sudah dikenal sejak abad ke-8 setelah pertunjukan Sangaku asal Tiongkok dibawa masuk ke Jepang. Nōgaku berkembang menjadi bentuk yang sekarang di abad ke-14. Pementasan Nōgaku dibagi menjadi dua bagian, Noh dan Kyōgen. Naskah Nōgaku berasal dari tradisi lisan pada abad ke-12 hingga abad ke-16.

Noh atau No (Jepang:能 Nō) ialah bentuk utama drama musik Jepang klasik yang telah dipertunjukkan sejak abad ke-14. Noh tersusun atas mai (tarian), hayashi (musik) dan utai (kata-kata yang biasanya dalam lagu-lagu).Pelakon menggunakan topeng dan menari secara lambat. Zeami Motokiyo dan ayahnya Kan’ami membawa Noh kepada bentuk terkininya selama masa Muromachi.

Tipe drama Noh

Potongan teater Noh diklasifikasikan dalam 5 kelompok.

  • Divine; pahlawannya bagaikan Tuhan, tokoh akhirat dsb. Pahlawannya berdoa di akhir drama.
  • Shura-mono (Jawara); pahlawan (jarang pahlawati) ialah jawara, biasanya hampir mati.
  • Kazura-mono (Wanita); pahlawati dan sering romantika cintanya menjadi fokus.
  • Zatsu-no (Serbaneka) ; Noh yang tidak bisa dikelompokkan atas 4 kelompok lainnya.
  • Oni-noh (Oni; setan) ; bukan manusia, seperti oni, tengu, peri, singa ialah pahlawan dari jenis ini. Terutama dimainkan di akhir drama.

Pelakon Noh

Biasanya, semua pelakon Noh ialah laki-laki. Kemampuan mereka telah dilatih ayahnya. Saat seorang wanita atau anak perempuan muncul di drama ini, aktor pria memainkan perannya dengan mengenakan topeng wanita.

Ada 3 macam pelakon Noh: shite, waki dan kyogen. Shitememerankan pahlawan maupun pahlawati. Ia berbicara, menyanyi, dan menari. Waki (berarti “pihak”) berperan sebaai kawan Shite, dan biasanya memerankan peran pelancong di tempat tertentu. Ia memperkenalkan pemirsa dengan dunia drama. Kyogen muncul di pertengahan drama jika memiliki 2 bagian, dan berperan sebagai warga lokal. Ia berbicara kepada Waki dan menyuruhnya melihat apa yang belum dilihatnya sebelum pembicaraan mereka.

Musik

Hayashi berarti instrumental musik, terdiri atas drum (Tuzumi, Taiko) dan seruling (Fue) yang biasa digunakan di teater.

Kyōgen (狂言?) bisa berarti:

  1. Teater humor tradisional Jepang yang merupakan perkembangan unsur humor pertunjukan Sarugaku. Kyōgen dan Noh merupakan seni tradisional Jepang yang sama-sama berakar dari Sarugaku. Sejak zaman Meiji, istilah Nōgaku atau Nohgaku (能楽?) sering digunakan untuk menyebut Noh dan Kyōgen.
  2. Salah satu jenis pertunjukan Kabuki yang disebut Kabuki-kyōgen atau cukup disebut Kyōgen.

Noh adalah teater musikal dengan menggunakan topeng yang disebut omote dalam istilah noh. Dalam noh, abstraksi dan simbolisme diekspresikan secara kuat melalui unsur gerak tari, dengan sebagian besar cerita yang bertemakan tragedi. Sebaliknya, sebagian besar peran dalam kyōgen tidak diperankan memakai topeng. Kyōgen mengembangkan lebih lanjut unsur-unsur komedi dan seni meniru gerak-gerik (pantomim) yang ada pada Sarugaku, termasuk naskah dialog dan penggambaran karakter secara realistik. Sebagian besar cerita yang dipentaskan dalam kyōgen adalah cerita satir, cerita yang menertawakan kegagalan, dan cerita humor.

Kyōgen berasal dari “kyōgen-kigo” (kyōgen-kigyo) yang merupakan istilah agama Buddha untuk kata berbunga-bunga atau cerita yang tidak masuk akal. Istilah kyōgen-kigyo sering dipakai kritikus sastra sewaktu mengkritik cerita roman dan puisi. Istilah ini kemudian digunakan untuk salah satu unsur Sarugaku berupa pertunjukan monomane (seni meniru gerak-gerik dan cara berbicara secara humor). Sejalan dengan perkembangan Sarugaku, istilah “kyōgen” akhirnya dipakai untuk sebagai sebutan untuk teater humor pada pementasan Noh.

Dalam konteks sehari-hari, istilah “kyōgen” dalam bahasa Jepang bisa berarti tindakan untuk menipu orang lain (orang yang pura-pura dirampok disebut kyōgen-gōtō), berbohong atau bercanda, atau tarian yang memancing tawa.
Sama halnya seperti Noh, peran utama dalam kyōgen disebut Shite. Peran pembantu disebut Ado, berbeda dengan Noh yang menyebutnya sebagai Waki. Jika ada lebih dari 2 peran Ado, maka peran tersebut disebut Ado 1 dan Ado 2. Selain itu, istilah Ado hanya digunakan untuk peran pembantu yang paling menonjol, sedangkan selebihnya disebut Tsukgi-ado (sebutan menurut aliran Ōkura) atau Ko-ado (sebutan menurut aliran Izumi). Peran pembantu yang naik ke panggung secara berkelompok disebut Tachishū, sedangkan pimpinan kelompok peran pembantu disebut Tachigashira. Sebutan untuk peran seperti disebut di atas sebenarnya kurang jarang dipakai, kyōgen lebih mengenal sebutan untuk karakter yang tampil dalam cerita, misalnya: Shu atau Teishu (majikan), Tarōkaja (pesuruh laki-laki), atau Suppa (peran penjahat).

Secara garis besar, kyōgen dikelompokkan menjadi 3 jenis:

  • Betsu-kyōgen (別狂言 kyōgen spesial?)
Penampilan aktor kyōgen yang memainkan karakter Sanbasō dalam pementasan cerita noh yang berjudul Okina (?).
  • Hon-kyōgen (本狂言 kyōgen tunggal?)
Pementasan kyōgen secara tunggal dan bukan merupakan bagian pertunjukan noh, kalau disebut kyōgen biasanya mengacu pada hon-kyōgen.
  • Ai-kyōgen (間狂言?, kyōgen selingan)
Kyōgen yang dipentaskan sebagai bagian pertunjukan Noh.

Hon-kyōgen masih dikelompokkan menjadi beberapa jenis yang bisa berbeda-beda menurut zaman dan aliran. Pada tahun 1792, Ōkura Torahirobon mengelompokkan hon-kyōgen menjadi:

  • Waki-kyōgen (大名狂言?)
Cerita bertemakan kebahagiaan dan keberuntungan.
  • Daimyō-kyōgen (大名狂言?)
Cerita bertemakan tuan dan majikan, daimyō menjadi peran utama dalam cerita.
  • Shōmyō-kyōgen (小名狂言?, kyōgen pesuruh)
Cerita bertemakan tuan dan majikan, pesuruh laki-laki yang disebut tarōkaja menjadi peran utama.
  • Mukojo-kyōgen (聟女狂言?, kyōgen wanita dan menantu pria)
Cerita tentang menantu pria sebagai peran utama yang menumpang di rumah mertua, atau cerita humor kehidupan sehari-hari seperti istri yang mengakali suami atau suami yang tidak bisa diandalkan.
  • Oniyamabushi-kyōgen (鬼山伏狂言?, kyōgen jin dan pertapa)
Cerita dengan raja kematian Yamarāja atau jin (oni) sebagai peran utama (termasuk cerita jin yang menyamar jadi manusia), dan Yamabushi (pertapa yang berasal dari gunung) sebagai peran utama.
  • Shukkezatō-kyōgen (出家座頭狂言?)
Cerita dengan peran utama pendeta, pendeta baru, atau zatō (tunanetra pengembara yang berpakaian mirip pendeta).
  • Atsume-kyōgen (集狂言?, kyōgen serbaneka)
Cerita dengan tema yang tidak termasuk ke dalam hon-kyōgen yang lain.

===========================

Sesuai dengan tradisi Iemoto, kyōgen sejak zaman Edo terbagi menjadi tiga aliran utama: aliran Ōkura, aliran Izumi, dan aliran Sagi. Sekarang hanya tinggal 2 aliran kyōgen yang tersisa, aliran Ōkura dan aliran Izumi. Di paruh kedua zaman Muromachi hingga awal zaman Edo juga terdapat aliran Nanto-negi yang berintikan seniman kalangan Jin-nin (Jinin). Pada waktu itu, sebagian besar kuil Shinto memiliki kelompok Sarugaku dan menggaji orang yang disebut Jinin untuk bekerja sebagai seniman sekaligus pesuruh. Menurut catatan sejarah, aliran Nanto-negi tercatat sangat populer pada zaman Muromachi, tapi ketenarannya mulai memudar di awal zaman Edo sampai akhirnya terserap ke dalam aliran yang besar. Berbagai aliran kecil yang tidak terkenal juga ikut punah, dan hanya meninggalkan naskah kyōgen yang sebagian sempat diterbitkan sebagai buku bacaan pada zaman Edo.

Aliran Ōkura

Aliran Ōkura merupakan satu-satunya aliran penerus tradisi Sarugaku Yamato. Keluarga Ōkura Yaemon Tora Akira yang pentas secara turun temurun di gedung teater Komparu-za mendirikan aliran ini di paruh kedua zaman Muromachi.

Sekarang aliran Ōkura terdiri dari keluarga Yamamoto Tōjirō (berpusat di Tokyo), keluarga Ōkura Yatarō (garis keturunan utama), keluarga Shigeyama Sengorō (berpusat di Kyoto), dan keluarga Shigeyama Chūzaburō (berpusat di Kyoto), kelompok Zenchiku Chūichirō (berpusat di Osaka dan Kobe), dan Zenchiku Jūrō yang berpusat di Tokyo.

Aliran Izumi

Aliran Izumi didirikan Yamawaki Izumo no Kami Motonori asal Kyoto di awal zaman Edo. Sekarang aliran Izumi terdiri dari tiga percabangan keluarga: keluarga Nomura Matasaburō (berpusat di Nagoya, disebut juga faksi Nomura), keluarga Nomora Manzō (berpusat di Tokyo, disebut juga faksi Miyake), dan Kyōgenkyōdōsha (berpusat di Nagoya, disebut faksi Nagoya).

noh4 noh-shite Noh_Actor_by_Alecca4you 30DMCNOH_1192886g 1_05 noh 5010-L Noh Performance nohgaku209 kyogen-212 Noh1

Kibuki

 kabuki 1366px-Kabuki6 kabuki_lions2 kabuki0003w

Hunabenkei

hunabenkei

Dipublikasi di Drama | Tag , | Meninggalkan komentar

Opera dei Pupi, Teater boneka Sisilia

pupipupi-siciliani_caltagirone2aietmh

L’Opera dei Pupi adalah sejenis teater boneka yang berkembang di awal abad ke-19 di kalangan rakyat Sisilia. Pertunjukan dibawakan menggunakan boneka yang disebut “Pupi”. Kisah kepahlawanan, syair Italia dan kisah kehidupan penjahat dan orang santo merupakan tema cerita. Sebagian dari cerita biasanya merupakan improvisasi atau karangan dari sang dalang. Dua aliran besar pergelaran boneka Pupi berasal dari Catania dan Palermo. Keduanya dibedakan dari karakteristik boneka, teknik memainkan, dan gambar latar belakang. Teknik pementasan biasanya diajarkan secara turun temurun di dalam satu keluarga, sedangkan boneka yang digunakan merupakan karya seni pengrajin ulung

Teatro-dellopera-dei-pupi-2 Mimmo Cuticchio puppets  pupi_da_teatro_-_f.lli_napoli_-_80_cm_61 opera_pupi pupi  222 opera-dei-pupi1 rianorgr 6799489444_49848bef86_z 1266699811 Mimmo Cuticchio tra i suoi pupi  L-opera-dei-pupi ncda90nnws_t 198-01-22-55-7927 insanguine 0689_-_Siracusa_-_Teatro_dei_pupi_-_Foto_Giovanni_Dall'Orto_-_16-Oct-2008

Dipublikasi di Drama | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Kutiyattam, Dramatari bahasa Sansakerta

Kutiyattam adalah pertunjukan dramatari dalam bahasa Sansakerta yang tertua di India. Pertunjukan dilangsungkan di gedung teater (Kuttampalam) yang berada di lingkungan kuil agama Hindu di Kerala. Tradisi pementasan Kutiyattam sudah berlangsung sejak 2.000 tahun yang lalu. Kutiyattam dulunya tidak bisa ditonton sembarang orang. Dramatari ini dianggap suci dan walaupun sekarang sudah bisa ditonton orang biasa, penari masih menerima penyucian dari pendeta dan lampu minyak terus menyala selama pementasan sebagai lambang kehadiran dewa. Koreografi yang rumit terus dijaga agar tidak bocor ke luar melalui peraturan yang ketat. Belakangan ini segala aspek pementasan Kutiyattam sudah ditulis ke dalam buku pedoman, tapi kerahasiaannya masih dipegang erat oleh keluarga tertentu

FMT-India-300x220 Roket-1Pentas Roket-1Buku Roket-1Watak

truktur persembahan drama tari kutiyattam terbahagi kepada empat bahagian iaitu Talavilkettuka, Arannuvitanam, Purappad dan Nirvahana.

Bahagian Talavilkettuka, iaitu upacara memasang lampu pertama, dilakukan di belakang tirai bagi memuja Ganesha, dewa berkepala gajah. Upacara itu dilakukan bagi mendapatkan restu Ganesha yang dianggap dewa utama dalam agama Hindu.

Pada bahagian Arannuvitanam pula, pentas direnjis dengan air suci, ditaburkan bunga serta dihias daun kelapa muda dan daun pokok mangga. Semua ini dilakukan dengan andaian dan kepercayaan bahawa dewa-dewi akan datang untuk turut menonton persembahan yang diadakan.

drama tari kutiyattam menggunakan Bahasa Sanskrit, Malayalam serta Manipravala iaitu gabungan Bahasa Malayalam dan Sanskrit dalam nyanyian, dialog dan penceritaan.

Kutiyattam dipersembahkan di atas pentas disebut kutambalam yang dibina khas di perkarangan kuil, terutama di Kerala.

Cerita-cerita kutiyattam yang diambil daripada epik Ramayana, Mahabharata dan purana sentiasa membuatkan dan melupakan  realiti di sekeliling.

sinopsis cerita “Valivadhanka” yang mengisahkan perselisihan antara Vaali, raja kera dengan adiknya, Sugriwa.

Sugriwa lalu meminta bantuan Rama untuk membunuh Vaali. Aksi pertarungan Sugriwa-Vaali dan Rama-Vaali pasti dipersembahkan secara penuh dramatik dalam drama tari kutiyattam.
Begitu juga kisah “Anguliyankam” yang berkisar tentang episod Rama meminta Hanuman meninjau keadaan Sita yang dilarikan oleh Ravana ke Lanka. Apabila bertemu Sita, Hanuman menyampaikan cincin pemberian Rama bagi membuktikan bahawa dia adalah utusan daripada Rama.

Dipublikasi di Tari | Tag , , , | Meninggalkan komentar